Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 24 Agustus 2017

Tag: , , , ,

Merawat Nasionalisme Indonesia


Nasionalisme. www.voa-islam.com

Merawat Nasionalisme Indonesia


SEPERTI yang pernah ditegaskan Bung Karno, Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 bukanlah akhir dari perjuangan. Sebaliknya, momentum ini merupakan awal bagi perjuangan yang baru!
Bung Karno, mengibaratkan kemerdekaan ini sebagai jembatan emas, yang menyilaukan, tetapi harus kita lalui dan tidak boleh terlena di atasnya. Jembatan emas inilah yang akan menjadi penghubung dan pengantar kita menuju bangsa yang maju, berdaulat, dan bermartabat. Tentu, generasi kita sekarang dan generasi penerus republik ini yang nantinya harus berjuang untuk melaluinya.
Sebagai sebuah bangsa, Indonesia bukanlah bangsa yang manja. Kita bukan termasuk bangsa yang suka merengek dan menunggu dengan pasrah datangnya kemerdekaan. Dengan berani, kita merebutnya, dari tangan para penjajah yang serakah.
Sejarah mencatat, tidak lama dari momentum proklamasi kemerdekaan, rakyat dan republik ini pun langsung diuji. Belanda yang membonceng Sekutu—pihak yang memenangkan Perang Dunia II—ingin kembali meluapkan nafsu serakahnya untuk mengusai bumi Nusantara.
Ketika itu, dada rakyat Indonesia, baik yang tua maupun muda tengah terbakar gelora api revolusi dan api itulah yang menjiwai keberanian rakyat Indonesia untuk berjuang mempertahankan martabat dan kemerdekaan. Bangsa Indonesia yang baru seumur jagung meraih kemerdekaan tidak gentar mengeluarkan satu jawaban: Lawan!
Pertempuran pun meletus di hampir seluruh penjuru Tanah Air. Api revolusi bergelora di Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Jakarta, dan di wilayah Nusantara lainnya. Masa-masa sulit ini kemudian kita kenal sebagai masa Revolusi Kemerdekaan periode 1945—1949. Sebagaimana pada masa sebelumnya, perlawanan ini pun tidak bisa dengan mulus diseragamkan.
Berbagai perbedaan pandangan dan pola perjuangan pun lahir dari mulai para elite hingga rakyat alit. Ada yang bersikukuh untuk merdeka 100% dengan mengangkat senjata. Ada juga yang bersikeras mengedepankan gaya diplomasi.

Benang Merah Nasionalisme
Sebagai relevansi dengan kondisi yang tengah kita hadapi dan butuhkan dewasa ini, sangat penting bagi kita untuk memetik keteladanan dari generasi revolusi yang berhasil mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemerdekaan. Ada satu hal penting yang menjiwai perjuangan generasi terdahulu yang harus kita tarik benang merahnya hingga ke zaman serbabebas dan terbuka seperti saat ini. Benang merah itu adalah: Nasionalisme!
Nasionalisme secara umum dapat kita sederhanakan menjadi cinta Tanah Air. Nasionalisme di sini bermakna luas dan tidak kaku. Ia juga bersifat terbuka dalam arti bisa beradaptasi dengan segala perubahan zaman.
Dalam keseharian kita dewasa ini, baik dalam urusan personal maupun komunal, baik dalam bentuk kultural maupun formal, nasionalisme tetap harus menjiwai kebiasaan hidup. Pada konteks aksi nyata yang bisa (dan harus) kita biasakan, dalam hemat penulis, penerapan nasionalisme dapat digolongkan ke dalam hal.
Pertama, dengan menjadi warga negara yang baik dan cerdas, antara lain dilakukan dengan cara mendukung berbagai kebijakan negara yang benar. Namun, harus juga berani mengkritisi atau mengingatkan apabila negara mulai mengabaikan kemaslahatan rakyat. Dalam hal ini termasuk juga keharusan kita untuk berdisiplin dan menaati berbabagi peraturan negara.
Kedua, menjauhi dan memerangi korupsi. Di sini harus digarisbawahi bahwa mental dan budaya korupsi tidaklah selalu hanya dimiliki para elite politik, pejabat publik, maupun pengusaha. Mental korup ini sebenarnya juga telah mengakar dalam diri masyarakat.
Tradisi menyogok, mental instan, berbohong, dan berperilaku curang, serta memelihara budaya bermewah-mewah (lunturnya sikap kesederhanaan) merupakan contoh dari bentuk menjamurnya korupsi di masyarakat kita. Jika kita mengaku benar-benar mencintai Indonesia, perangilah korupsi minimal dari dalam diri kita sendiri.
Ketiga, berkarya pada bidang masing-masing. Nasionalisme di era ini juga harus dimaknai sebagai penguatan mental untuk mau dan mampu berkarya demi kesejahteraan hidup kita dan kemajuan bangsa. Artinya, kita tidak boleh terlena dengan berbagai kemudahan zaman yang ditawarkan. Slogan “Kerja! Kerja! Kerja!” mestilah bisa diwujudkan dalam aksi nyata sesuai dengan bidang, tingkatan, dan kemampuan masing-masing.
Tanpa adanya wujud nasionalisme di poin ini, bangsa kita akan terus-menerus menjadi bangsa tertinggal. Terlebih lagi pada era ini, inovasi, kreativitas, dan kerja keras adalah kata kunci agar tidak tergilas roda kemajuan zaman.
Keempat, menghidupkan Pancasila dan merawat budaya bangsa. Ini mungkin merupakan poin paling penting dan menempati dimensi paling luas. Di tengah zaman yang serbabebas dan cenderung kebablasan, merosotnya moral, maraknya peredaran narkoba, dan aksi radikalisme, Pancasila tetap relevan untuk dijadikan pedoman. Apabila Pancasila dapat teraktualisasikan sebagai pedoman dan tujuan hidup bangsa, sederas apa pun arus perubahan zaman tidak mungkin menenggelamkan kita.
Nilai dan budaya luhur seperti sifat yang ramah dan suka bermusyawarah, mengutamakan kepentingan bersama (gotong royong), serta terus berusaha menjadi umat beragama yang taat haruslah kembali menjadi pedoman hidup.
Hanya menjadi omong kosong belaka ketika kita menggembar-gemborkan nasionalisme, tetapi kita tidak bersandar pada ideologi atau karakter bangsa kita sendiri. Tidak dapat disangkal lagi, untuk melewati jembatan emas dan gerbang kemerdekaan ini dengan selamat dan bermartabat, Pancasila, dan nasionalisme haruslah kita rawat.
Sumber Lampost.co

About sella adelia

Hi, My Name is Hafeez. I am a webdesigner, blogspot developer and UI designer. I am a certified Themeforest top contributor and popular at JavaScript engineers. We have a team of professinal programmers, developers work together and make unique blogger templates.

0 komentar:

Posting Komentar