Usaha Liur Emas Burung Walet yang kian Meredup (2)
.png)
SUKADANA (Lampost.co) -- Ewi, lelaki paruh baya warga Desa Banjarrejo, Kecamatan Batanghari, yang menjadi penjaga sekaligus pengelola bangunan gedung walet di salah satu lokasi di desanya itu menceritakan naik turunnya usaha yang pernah digelutinya itu.
Menurut Ewi, para pemilik gedung walet atau pengusaha sarang burung walet tersebut rata-rata merupakan warga luar daerah bahkan luar Provinsi Lampung. Mereka datang dan membangun gedung untuk usaha sarang burung walet termasuk di Lamtim.
“Usaha tersebut tersebar di beberapa kecamatan, seperti Batanghari, Sekampung, Purbolinggo, Bandarsribhawono, dan lain-lain, biasanya atas rekomendasi rekan atau kolega yang ada di seputaran wilayah Provinsi Ruwa Jurai ini,” kata dia.
Namun, pebisnis sarang burung walet itu jelas dipastikan merupakan orang-orang berduit. Sebab, untuk memulai usaha itu, dari membeli lahan, mendesain dan membuat bangunan gedung walet lengkap hingga siap operasional, plus rumah penjaganya.
“Bisnis walet butuhkan biaya besar hingga miliaran rupiah. Karena itulah wajar saja kalau bisnis sarang burung walet di mata masyarakat pada waktu itu merupakan bisnis bergengsi karena cuma orang-orang berduit yang bisa melakukannya.”
Tetapi orang-orang berduit tersebut bukan tanpa alasan berani menggelontorkan modal yang tidak sedikit tersebut. Mereka berani karena laba atau keuntungan yang bisa di reguk dari bisnis liur burung walet pada waktu itu memang sangat besar.
“Di mana harga sarang burung walet dengan kualitas baik di hargai sangat mahal mulai belasan hingga hingga puluhan juta/kg di pasaran. Jadi, selain menyerap modal ekstra besar, namun keuntungannya saat itu juga sangat menjanjikan.”
Kemudian, meski burung–burung walet liar itu sangat sulit dibudidayakan dan hanya mengandalkan penyediaan sarana gedung untuk tempatnya membuat sarang, usaha tersebut tak begitu mengandung risiko. Setelah gedung berdiri kokoh dan lengkap seluruh sarana prasarananya kemudian siap beroperasi.
“Aset bernilai miliaran itu juga tak perlu ditunggui sang pemilik dan hanya tinggal menggaji penjaga yang ditugasi menjaga sekaligus mengelola gedung tersebut. Pemilik usaha sarang burung walet itu biasanya hanya datang untuk memantau atau mengunduh sarang burung walet yang sudah siap panen.”
Panen sarang burung walet perdana kata Ewi, biasanya dilakukan setelah beberapa bulan gedung walet berdiri. Itu tergantung dari banyak atau tidaknya burung walet yang datang, masuk, menginap, dan bersarang di gedung yang disediakan tersebut.
Menurut Ewi, para pemilik gedung walet atau pengusaha sarang burung walet tersebut rata-rata merupakan warga luar daerah bahkan luar Provinsi Lampung. Mereka datang dan membangun gedung untuk usaha sarang burung walet termasuk di Lamtim.
“Usaha tersebut tersebar di beberapa kecamatan, seperti Batanghari, Sekampung, Purbolinggo, Bandarsribhawono, dan lain-lain, biasanya atas rekomendasi rekan atau kolega yang ada di seputaran wilayah Provinsi Ruwa Jurai ini,” kata dia.
Namun, pebisnis sarang burung walet itu jelas dipastikan merupakan orang-orang berduit. Sebab, untuk memulai usaha itu, dari membeli lahan, mendesain dan membuat bangunan gedung walet lengkap hingga siap operasional, plus rumah penjaganya.
“Bisnis walet butuhkan biaya besar hingga miliaran rupiah. Karena itulah wajar saja kalau bisnis sarang burung walet di mata masyarakat pada waktu itu merupakan bisnis bergengsi karena cuma orang-orang berduit yang bisa melakukannya.”
Tetapi orang-orang berduit tersebut bukan tanpa alasan berani menggelontorkan modal yang tidak sedikit tersebut. Mereka berani karena laba atau keuntungan yang bisa di reguk dari bisnis liur burung walet pada waktu itu memang sangat besar.
“Di mana harga sarang burung walet dengan kualitas baik di hargai sangat mahal mulai belasan hingga hingga puluhan juta/kg di pasaran. Jadi, selain menyerap modal ekstra besar, namun keuntungannya saat itu juga sangat menjanjikan.”
Kemudian, meski burung–burung walet liar itu sangat sulit dibudidayakan dan hanya mengandalkan penyediaan sarana gedung untuk tempatnya membuat sarang, usaha tersebut tak begitu mengandung risiko. Setelah gedung berdiri kokoh dan lengkap seluruh sarana prasarananya kemudian siap beroperasi.
“Aset bernilai miliaran itu juga tak perlu ditunggui sang pemilik dan hanya tinggal menggaji penjaga yang ditugasi menjaga sekaligus mengelola gedung tersebut. Pemilik usaha sarang burung walet itu biasanya hanya datang untuk memantau atau mengunduh sarang burung walet yang sudah siap panen.”
Panen sarang burung walet perdana kata Ewi, biasanya dilakukan setelah beberapa bulan gedung walet berdiri. Itu tergantung dari banyak atau tidaknya burung walet yang datang, masuk, menginap, dan bersarang di gedung yang disediakan tersebut.
Sumber Lampost.co
About sella adelia
Hi, My Name is Hafeez. I am a webdesigner, blogspot developer and UI designer. I am a certified Themeforest top contributor and popular at JavaScript engineers. We have a team of professinal programmers, developers work together and make unique blogger templates.


0 komentar:
Posting Komentar