Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 21 Agustus 2017

Tag: , , , , , ,

Sekolah Delapan Jam



Rudiyansyah, wartawan Lampung Post

Sekolah Delapan Jam


SEKOLAH belakangan jadi ramai dengan pemberlakuan aturan delapan jam sekolah atau sekolah lima hari dalam sepekan. Tidak sedikit masyarakat yang menolak, meminta aturan yang berlaku mulai tahun pelajaran 2017/2018 ini dibatalkan. Alasannya pun beragam, mulai dari belum memadainya fasilitas sekolah, pemerataan guru yang masih terus jadi PR, hingga rutinitas berbeda antara siswa di kota dan di desa.
Sebenarnya, sekolah lima hari bukan barang baru khususnya di perkotaan, termasuk di Bandar Lampung. Beberapa sekolah sudah lebih dulu menerapkan, sebelum akhirnya akan dicobakan se-Indonesia lewat Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah.
Delapan jam anaknya berada di sekolah mungkin sudah biasa bagi para orang tua sibuk yang tinggal di perkotaan. Bahkan mereka tak kaget, ketika anak harus pulang malam, karena ikut les tambahan di lembaga bimbingan belajar.
Sementara delapan jam anak di sekolah sudah barang pasti memunculkan pertanyaan bagi para orang tua di kampung. “Ngapain aja kamu le di sekolah sampai sore? Kapan waktu bantu orang tua di kebun atau sawah dan menggembalakan ternaknya?”
Di tengah perdebatan keras, yang cenderung meluas ke ranah politis, Presiden Joko Widodo memberikan kebebasanan kepada sekolah memilih untuk mengikuti ataupun tidak mengikuti aturan baru itu. Aturan baru yang lebih tinggi, melalui peraturan presiden (perpres) disiapkan, yang bakal dikeluarkan, September nanti.
Pro-kontra sekolah delapan jam, tak ayal menjadi penggambaran betapa besarnya bangsa ini. Aturan yang dikeluarkan untuk ranah yang amat mendasar dan jadi kebutuhan semua lapisan masyarakat yakni pendidikan, seharusnya tidak sebatas hasil kajian cetek di sekolah-sekolah pusat kota. Sekolah di pelosok yang masih mengibarkan bendera merah putih di tiang benderanya pun, masih perlu dijadikan pijakan.
Momentum peringatan hari ulang tahun kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia yang baru berlalu, seharusnya menjadi pengingat kemerdekaan pendidikan tak cukup dengan membebaskan sekolah memilih mau sekolah berapa jam.
Merdekanya pendidikan dapat dirasakan jika sekolah bagus juga ada di kampung-kampung dan guru-guru berkualitas tidak hanya bisa ditemui siswa di sekolahan kota. Setelah itu barulah bicara berapa jam anak-anak kampung musti bersekolah.
Sumber : Lampost.co

About sella adelia

Hi, My Name is Hafeez. I am a webdesigner, blogspot developer and UI designer. I am a certified Themeforest top contributor and popular at JavaScript engineers. We have a team of professinal programmers, developers work together and make unique blogger templates.

0 komentar:

Posting Komentar